PENCARIAN

Saturday, 5 June 2010

LEGENDA MALIN KUNDANG

MALIN KUNDANG





   Cerita anak: Kisah Malin Kundang
Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga
nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra.
Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan
seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin
Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga yang
memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk
mencari nafkah di negeri seberang dengan
mengarungi lautan yang luas.

   Maka tinggallah si
Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu,
dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1
tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga
kembali ke kampung halamannya. Sehingga
ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin
untuk mencari nafkah.
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit
nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya
dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang
mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan
kanannya luka terkena batu. Luka tersebut
menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa
hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa
kasihan dengan ibunya yang banting tulang
mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia
berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang
dengan harapan nantinya ketika kembali ke
kampung halaman, ia sudah menjadi seorang
yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan
seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya
miskin sekarang sudah menjadi seorang yang
kaya raya.
kundang mengutarakan
maksudnya kepada ibunya.
Ibunya semula kurang setuju dengan maksud
Malin Kundang, tetapi karena Malin terus
mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya
menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah
mempersiapkan bekal dan perlengkapan
secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga
dengan diantar oleh ibunya. "Anakku, jika engkau
sudah berhasil dan menjadi orang yang
berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu
dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin
Kundang sambil berlinang air mata. Kapal yang
dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan
diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang.
Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak
belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah
kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah
perjalanan, tibatiba kapal yang dinaiki Malin
Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang
dagangan para pedagang yang berada di kapal
dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar
awak kapal dan orang yang berada di kapal
tersebut dibunuh oleh para bajak laut.
Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak
dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika
peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di
sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu. Malin
Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga
akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di
sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada,
Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang
terdekat dari pantai. Sesampainya di desa
tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat
di desa tersebut setelah sebelumnya
menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa
tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat
subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam
bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi
seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal
dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih
dari 100 orang.
Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang
mempersunting seorang gadis untuk menjadi
istrinya. Berita Malin Kundang yang telah menjadi
kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada
ibu Malin Kundang.
Ibu Malin Kundang merasa
bersyukur dan sangat gembira anaknya telah
berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap
hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang
mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan
istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang
besar dan indah disertai anak buah kapal serta
pengawalnya yang banyak.
Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui
anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu,
masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang
yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin
kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya
Malin Kundang beserta istrinya. Malin Kundang
pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya.
Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka
dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah
ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin
Kundang.
"Malin Kundang, anakku, mengapa kau
pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?",
katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa
yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera
melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya
hingga terjatuh. "Wanita tak tahu diri,
sembarangan saja mengaku sebagai ibuku", kata
Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-
pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan
ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju
compang-camping. "Wanita itu ibumu?", Tanya
istri Malin Kundang. "Tidak, ia hanya seorang
pengemis yang pura-pura mengaku sebagai
ibuku agar mendapatkan harta ku", sahut Malin
kepada istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-
mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat
marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak
durhaka. Karena kemarahannya yang
memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya
sambil berkata "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku,
aku sumpahi dia menjadi sebuah batu". Tidak
berapa lama kemudian angin bergemuruh
kencang dan badai dahsyat datang
menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu
tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan
lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi
sebuah batu karang.


HIKMAH: Sebagai seorang anak, jangan pernah
melupakan semua jasa orangtua terutama kepada
seorang Ibu yang telah mengandung dan
membesarkan anaknya, apalagi jika sampai
menjadi seorang anak yang durhaka. Durhaka
kepada orangtua merupakan satu dosa besar
yang nantinya akan ditanggung sendiri oleh anak.
Sudah bosan berobat ?

No comments:

Post a Comment

Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca .
Jangan lupan tinggalkan komentar ya. :D